[Novel] Sebingkai Senyuman

[Novel] Sebingkai Senyuman

Mentari itu hilang bersama beberapa lekukan awan. Berjalan perlahan dengan satu peniup yang sedari tadi diam di belakang kerudung merah muda seorang gadis berwajah manis. Bibir tipis itu menampakkan satu senyum khas berselimut sunyi. Ia menyusuri hamparan rumput hijau yang mengelilingi sisa bangunan sejarah. Beberapa bangunan itu tampaknya masih kokoh untuk sekedar bercerita apa yang sudah di alaminya.

Mata bulat itu memandang keseluruh sudut, dua pasang kaki yang terus berjalan itu mulai memasuki gerbang tua. Sudah lama rasanya ia ingin pergi ke satu tempat ini. Langkah itu semakin jauh menyusuri embun yang rasanya masih menempel lekat di sepatu kets hitam kepunyaannya.
Pohon hijau besar di sudut kanan itu menarik hati, seraya menyapa kedatang satu gadis yang masih  diam memperhatikan. Di potretnya pohon besar yang menjulang itu, bersama beberapa ilalang kecil yang setia hadir di sekelilingnya. Menemani keheningan waktu yang terus berpacu…

            “Hey…” satu suara seorang lelaki itu mengagetkan.

Menolehkan kepalanya ke arah belakang, namun tidak ada satupun orang. Gadis itu diam.

“Hello… kamu.” Suara itu terdengar lagi.

Gadis itu mulai bingung, sedikit berjalan ke arah gerbang dan masih tak mendapati seorangpun.

“Aku di atas sini hey…” bayangan itu menampakkan bentuknya di lantai bangunan tua. “Ayo naik ke sini, viewnya lebih asik loh. Pemandangannya juga bagus.” Ajak lelaki itu.

Langkah kecil naik perlahan, menuruti satu ajakan lelaki yang bahkan belum pernah ia temui. Berselimut angin dan beberapa guguran daun tua yang mulai mengering, mata itu menampakkan bentuknya. Menatap satu lelaki yang diam di pinggiran bangunan bersejarah ini.

“Ayo duduk di sini, aku gak bakal dorong kamu sampai jatuh kok.” Pemilik rambut ikal hitam itu tersenyum…

Gadis itu tertunduk, melangkahkan kakinya tepat di samping tas hitam besar. Terduduk diam dan menurunkan dua pasang kakinya yang menggantung di pinggir bangunan. Hening itu masih menyisakan rasa canggung. Berpasangan sang peniup dan mentari yang mulai berubah kuning kemerahaan, dua makhluk Tuhan ini masih jua membisu.

“Indah, bukan?” gadis itu menolehkan pandangannya ke arah sumber suara, “Subhanallah…” lelaki itu mendongakkan kepalanya, dengan mata yang tertutup dan bibir yang tipis berhias bulu-bulu lembut itu menarik nafas panjang. Mencoba menikmati sedikit kuasa Tuhan.

Gadis itu mencoba hal yang sama, membuat satu rasa dimana ia benar-benar menikmatinya. Sejuk yang bermain lembut menyentuh kerudung merah muda kepunyaannya. Lelaki itu masih diam memperhatikan.

“Benar kata aku kan?” gadis itu hanya mengangguk pelan. “Aku Rama…” menjulurkan tangannya perlahan.

“Anggun.” Jawab gadis itu sedikit berbisik…

“Ya…. Anggun.” Ia menampakkan lagi senyumnya. Gadis itu menolehkan pandangannya ke arah kanan. “Pohon itu unik”

“Unik?”

“Iya… dia satu-satunya pohon yang berdiri sendiri sampai sebesar itu, di temani beberapa ilalang kecil yang putih lembut di sekelilingnya. Ibarat wanita, dia seorang Ibu yang benar-benar tangguh membesarkan anak-anaknya sendiri…”

“Kamu Fotografer?”

“Penyair…”

“Oh… hmm…” gadis itu menarik nafas panjang.

Lelaki itu tertawa kecil, “kamu percaya?” memiringkan kepalanya memandang wajah Anggun.

“Lho? Emang?”

“Hahaha… mana ada Penyair yang bergajulan kayak aku. Rambut kriting gak jelas dengan baju yang kayak gini?”

“Oh jadi kalau penyair itu gak boleh bergajulan? Jadi kalau yang bergajulan kayak kamu itu apa? Aku sih percaya aja ya dari cara kamu mengibaratkan pohon besar itu… bisalah sedikit meyakinkan untuk seorang penyair?” alis itu mengangkat.

“Ya engga gitu sih hahaha. Well, aku Fotografer. Kamu juga?” menunjuk ke arah kamera yang melingkarkan talinya tepat di belakang kerudung merah muda itu.

Gadis itu menggenggam kameranya, “aku Penulis.”

“Oh… oke. Keren. Boleh juga.”

Gadis itu tersenyum…

“Mau lihat pemandangan yang lebih bagus gak?”

“Emang ada tempatnya yah? Dimana?”

“Di atas menara itu…” menunjuk ke arah menara Banten Lama yang tinggi menjulang.

“Boleh?”

“Boleh kok, yuk!” Rama sudah berdiri dengan tas ransel hitam yang dia bawa.

Anggun tersenyum, dan ikut berdiri. Dua pasang kaki itu mulai melangkah, seolah bermain indah di atas permukaan tanah. Menyelinap dalam satu kawasan yang mulai penuh dan padat dengan orang-orang, memasuki pintu kecil khas bangunan Kerajaan Islam. Gelap itu terasa pengap, mencoba menyembunyikan beberapa cahaya yang diam-diam masuk dari sela tembok menara. Bangunan ini masih kokoh, bersama serentetan anak tangga yang meliuk di tengah badannya. Kaki itu mulai terasa keram, lelah dengan satu persatu langkah yang tak juga berujung akhir puncaknya. Mereka hanya saling menoleh, memberi semangat untuk terus berjalan sampai puncaknya, memompa oksigen yang rasanya kian menipis, memberikan senyuman manis yang tergenggam kelelahan. Sampai akhirnya cahaya besar itu menampakkan wajahnya, menyajikan satu obat kelelahan melalui pemandangan kebesaran Tuhan. Mulut itu tak henti berucap syukur, tak henti pula merekam setiap detik yang menghapus keringat pelepasan. Di potretnya kacamata Tuhan itu, Anggun menarik nafas panjang dengan mata tertutup keheningan… ia merasa lebih dekat lagi dengan Tuhan, dalam hatinya terus berucap doa, terus berharap pemandangan ini tak akan hilang sampai pada waktunya ia kembali.

“Bagaimana?”

“Subhanallah… speechless Ram” gadis itu masih menampakkan senyum puasnya.

“Perjuangannya gak sia-sia bukan?”

“Jujur, aku baru pertama kali dateng ke Banten Lama, dan beruntung banget bisa ketemu sekaligus kenal sama satu sosok pribadi yang kayak kamu. Makasih ya, Ram…” senyum itu masih menampakkan keindahannya.

“Kamu bisa teriak sesuka hati kamu. Kamu bisa potret ini semua. Kamu bisa nikmatin sejuknya angin yang terus meniup ke arah kamu. Kamu bisa lakuin semuanya…” lesung pipi itu meluluhkan hati Anggun. Seakan memberi salam untuk perkenalannya.

Di bawah saung kecil para pedagang, mereka terduduk dengan pandangan lurus ke depan. Memandang satu museum yang sepi dengan beberapa patung.

“Kalau lagi motret, paling suka motret apa kamu Anggun?”

“Aku… suka sama senyuman…” gadis itu menunduk menatap kamera yang digenggamnya, “aku suka senyuman, aku suka lihat orang tersenyum apalagi tertawa, aku senang saat melihatnya.” Rama masih diam memperhatikan, “setidaknya… dari satu senyum atau tawa itu… aku tahu dia sedikit melupakan satu masalah besar di hidupnya. Ketika orang tersenyum, ketika orang tertawa lepas… aku yakin dia punya satu waktu yang sedikit meringankan bebannya. Aku suka memotret senyuman. Aku senang lihat orang tersenyum.”

Rama masih memperhatikan satu gadis yang menjelaskan kesenangannya, dengan senyum manis berselimut kerudung lembut yang melingkar tepat di pipi chubbynya yang putih kemerahan… rasanya senyum itu memang benar-benar indah terlihat..

“Ya… senyuman.”

“Kalau kamu? Kenapa kamu memilih menjadi Fotografer?” masih dengan senyumannya, “bukankah banyak orang bilang jadi Fotografer itu gak ada masa depannya yah?”

“Kamu? Kenapa memilih jadi Penulis? Bukankah sama saja ya tanggapan orang lain yang berkata demikian itu lah… kalimat yang kamu ucapkan tadi tentang masa depan?”

Anggun tertunduk, “karena aku… aku suka menulis. Aku suka memikirkan apa yang biasanya orang pikir gak penting. Aku suka membayangkannya. Dan aku suka berbagi… aku ingin orang lain tahu apa yang aku pikirin, aku ingin orang lain lihat dengan cara membacanya, melihat satu bungkusan pimikiran aku yang banyak orang lihat gak penting itu… ke dalam satu karya yang dapat orang banyak nikmati. Aku suka berbagi… aku suka berbagi cerita, Ram.”

“Begitupun aku…” Anggun menoleh ke arahnya. “Buatku, kamera adalah satu bagian dari kehidupanku. Aku juga berbagi, aku ingin orang lihat keindahan yang sudah pernah aku lihat. Aku ingin orang tahu betapa indahnya kacamataku melalui seni gambar. Aku bisa menceritakan keindahan yang pernah aku lihat” Rama menghempaskan nafasnya, “tapi rasanya akan lebih indah ketika orang melihat gambarannya, melihat apa yang aku lihat juga. Makanya aku potret semua yang aku lihat, aku abadikan semuanya… agar bukan cuma aku yang bisa bersyukur atas semua nikmat yang di berikan Tuhan. Lewat kamera, aku bisa berbagi… karena kamera, aku bisa terus memandang hal indah yang pernah aku pandang secara langsung, dari gambarnya lagi. Itu sebabnya, Anggun…”

Gadis itu menolehkan pandangannya, “Kamu memang cocok menjadi seorang Penyair…”

“Hahaha, kamu lucu Anggun.”

“Kenapa kamu selalu panggil nama aku dengan lengkap? Kenapa gak di singkat? Panggil Gun gitu, atau apa kek gitu…”

“Aku lebih suka panggil kamu Anggun.” Dua bola mata yang menipis karena pipi yang mengkerut bersama sebingkai senyuman manis itu membawa satu waktu yang hanyut melalui senja…

Sepasang langkah kecil itu mulai menyusuri setiap bloknya. Membuat satu lagi waktu istimewa sebelum mungkin akan sirna untuk selamanya.

“Apa kita… bisa ketemu lagi?”

Mata itu menatap tajam tepat kearah pertanyaan, “Kita pasti bertemu. Di waktu yang sama, bersama senja… aku pamit. Hati-hati buat kamu. Semoga Allah selalu melindungimu.” Senyum itu pergi bersama beberapa tanya. Satu tanya yang bahkan mungkin tak ada jawabannya… Apa kita bisa ketemu lagi?

***

Tangan itu masih sibuk menggambil beberapa momen penting yang sedang berlangsung. Mata tajam yang terus mencari angle di balik lensa itu menatap beberapa sela menyusuri acara. Detik kian cepat berjalan, mengantar matahari pulang melalui ujung pantai yang terus melambai…membiarkan sinar itu datang dengan sendirinya.

Di kursi kayu tua, lelaki berambut keriting ini mulai menghanyutkan waktunya, bersama beberapa nyanyian santai itu dia terus menatap senja… sampai pandangannya menyerong ke satu sosok gadis berkerudung putih bermotif bunga yang senada dengan roknya…

“Hey… kerudung.”

Gadis itu menolehkan kepalanya sedikit kearah kiri, “Hey… hmm. Keriting.”

Sepasang makhluk Tuhan itu tertawa kecil, mencoba untuk percaya satu sosok yang telah di berdiri tepat di depannya masing-masing.

“Mungkin kita memang di takdirkan untuk bersama dan saling mengisi kekosongan hati di saat liburan panjang seperti ini…”

“Hahaha, ya… mungkin. Sama…?”

“Oh, iya. Aku bareng sama Crew… lagi ada acara kebetulan ini di Anyer, menikmati senja paling enak kan di sini haha. Kamu?”

“Aku sendiri… yang lain nyusul besok.”

“Hmm… penulis kesepian yah?” lelaki itu menampakkan senyum lebarnya.

“Yah… gak gitu juga sih. Cuma emang kebetulan aja…”

“Suka jagung? Jagung bakar contohnya?”

“Hmm… suka.”

“Satu jam lagi, aku tunggu di saung itu.” Jari telunjukknya mengarah tepat menuju satu saung yang lengkap dengan para pedagang. Lalu saat gadis itu menoleh kearah belakang dari tempatnya berdiri, di mana saung itu berada. Lelaki itu pergi, menyiapkan diri untuk pertemuan spesialnya yang kedua bersama gadis berkerudung manis.

Langit sore ini begitu cerah, sehingga sang mentari yang mulai menampakkan wajah sendu kemerahan seraya mengucapkan selamat tinggal pada dunia untuk pergi menyinari belahan dunia lain itu, terlihat jelas mulai meredupkan sinarnya. Dua jagung yang sedang di bakar seolah berkata sama dengan sang pemesannya… di mana gadis cantik ini?

“Hey…” ujung kerudung yang jatuh dari pundak gadis yang membelokkan wajahnya itu datang menyapa.

Lelaki itu sempat terdiam sesaat, “Hey… kamu… anggun.”

“Iya… memang siapa lagi?” senyum itu terlukis.

“Engga, maksud aku. Kamu… anggun.”

“Iya….”

“Bukan gitu, maksud aku… kamu… nampak anggun sekali, Anggun.”

Mimik muka gadis itu berubah drastis, membalikkan kepalanya kearah berlawan dari sumber suara yang baru saja menggodanya.

“Tersipu?”

“Ha? Engga…”

Lelaki itu mengangkat alisnya, masih menatap satu wajah yang coba menggigit bibir bawahnya. Memandang sisa-sisa senyum akibat perkataannya… gadis itu masih juga bungkam.

“Oke…” menghempaskan nafasnya, “just a little bit, hehe”

“Ya. Aku tahu…” lelaki itu lagi-lagi menampakkan lesung pipi manisnya, sambil memberikan satu jagung bakar untuk gadis itu…

Senja yang kemerahan sudah menghilang, menggantikan sinar rembulan untuk menyinari belahan bumi yang ia tinggalkan… bersama langkah kecil sang peniup yang berjalan di sela-sela waktu mereka berdua, keheningan itu terus berkalbu.

“Anggun?”

“Iya, Rama?”

“Aku… nyaman sama kamu.” Gadis itu diam, “Boleh, aku kenal kamu…”

“Aku udah tunangan, Ram!”

DEG! Hening itu kembali menyapa dua insan yang saling terdiam.

“Oh ya? Who’s the lucky guy?”

“Gilang. Dia pebisnis muda di luar kota…”

“Hmm. Aku terlambat, waktuku memang berjalan perlahan haha.”

Ya… beberapa bulan yang lalu, bisik sesak gadis itu. Waktu yang membuat semua terasa berbeda begitu saja… langkah kaki yang berjalan menuju pintu depan Villa yang di tempati Anggun itu terasa begitu lambat, membuat waktu yang beradu di dalamnya semakin lama semakin menyayat pilu.

“Udah Ram, sampe sini aja…”

“Semoga… dia bisa bahagiain kamu yah, sama seperti niat aku setiap kali ngeliat senyum kamu.”

Gadis itu bungkam, hatinya bahkan perlahan menipis untuk sekedar mencerna perkataan yang semakin membuatnya ingin menangis dan terus menangis.

Beberapa langkah sempat ia hempaskan di atas pasir, lalu gadis itu menyuarakan namanya kembali…

“Rama… terimakasih, untuk setiap waktu yang berarti, untukku.”

Ia hanya tersenyum, membalikkan kembali tubuh yang terus menahan untuk tidak jatuh. Tidak jatuh seperti perasaannya. Perasaannya yang terus berkata… terimakasih juga, untuk beberapa waktu yang bergitu sakit, untukku.

***

“Boleh Om foto kan?” sapa satu lelaki kepada gadis kecil yang sedang berayun.

“Iya…”

Lelaki itu tersenyum…

“Rama? Rama Pratama?”

Lelaki itu terdiam, menatap satu gadis yang tak dapat dia coba jelaskan rasanya saat itu juga.

“Anggun? Ini bener Anggun?”

“Iya Rama…” gadis itu tersenyum. “Sudah lama yah, kita gak ketemu…”

“Iya, ini?” menunjuk kearah gadis kecil yang masih berayun.

“Keisya…”

“Oh… Keisya. Nama yang bagus…”

“Kamu ngapain di Alun-Alun sore gini?”

“Motret anak kecil, hehe…”

“Oh gitu, kok cuma anak kecil?”

“Soalnya kan cuma anak kecil yang masih punya senyum polos.” Gadis itu menatap tajam, “dan aku mulai suka potret senyum anak kecil.” Nada bicaranya merendah. “Karena, dulu ada yang bilang sama aku… kalau dia suka potret senyuman. Lalu aku juga mulai menyukainya…”

Lelaki itu tertunduk, terus saja menatap kearah kamera yang masih menunjukkan beberapa gambar hasil jepretannya.

“Oh iya. Kamu ganti nomer? Aku coba hubungin kamu waktu itu tapi gak aktif. Nomer di kartu namamu itu…”

“Untuk apa kamu menghubungiku?”

“Untuk memberi tahu kabar, Ram…” gadis itu tersenyum.

“Kabar apa? Kabar kamu akan menikah? Kabar kamu telah hamil? Kabar kamu yang sekarang udah punya anak sebesar ini? Kabar apa, Anggun?”

“Hey… santai dong, Ram.”

“Gimana bisa? Aku bahkan sampai sekarang belum bisa lupain kamu…”

“Dengerin dulu dong apa yang mau aku omongin.”

“Emang apa?”

“Dia ini keponakan aku Ram…” pandangan itu sejajar dengan mata sipit gadis manis berkerudung tipis. “Aku gak jadi nikah Ram, Gilang belum siap buat nikah. Bahkan buat ninggalin sebentar pekerjaannya aja dia gak bisa…”

Nasi goreng yang berada tepat di samping pasar malam yang ada di Alun-Alun itu sepertinya menjadi saksi bisu satu lagi momen berarti saat itu.

“Jadi aku… bisa dong lanjutin pertanyaan aku yang waktu itu?”

“Pertanyaan apa?”

“Pertanyaan di Anyer yang kamu sela dengan berita burukmu itu…”

“Memang apa?”

“Aku nyaman sama kamu… bahkan sampai sekarang pertemuan kita lagi setelah beberapa tahun. Rasanya masih sama… bolehkan untuk sekedar mengenalmu lebih jauh lagi?”

“Hm… jadi itu yang mau kamu omongin? Haha.”

“Ya terus?”

“Aku kira kamu tuh dulu mau langsung tembak aku hahaha…” Lelaki itu masih diam memperhatikan, 
“Apa?”

“Terus?”

“Kasih satu alasan aku seakan kamu seorang Penyair bukan Fotografer tentang ini… tentang kenapa kau harus kasih jawaban Iya untuk kamu?” sambil menunjukkan sendoknya, gadis itu tersenyum.

“Hmm… simple.”

“Ya?” alisnya menangkat seraya penasaran dengan apa yang akan di ucapkan.

Lelaki itu sedikit berbisik dan mendekatkan mukanya kearah gadis itu, “Karena aku… mau membahagiakanmu setiap kali aku melihat senyummu. Bersama senja dan fajar yang akan menyongsong kisah baru berawalan Kita… Kita, untuk Anggun, dan Rama…”

THE END

            

sipasipeng[Novel] Sebingkai Senyuman
Karya sipasipeng
Kunjungi Twitter Penulis Disini: @sipasipeng

Recent search terms:

  • sebingkai senyum

Artikel Terkait

Acara Artikel KotaSerang Sejarah Seni

Author: 
author

Related Post